Jaksa di Riau Bebaskan Pelaku Pengancaman Pembunuhan, Kok Bisa?

Pelaku pengancaman pembunuhan dibebaskan oleh Kejari Bengkalis dengan menempuh keadilan restoratif.
Pelaku pengancaman pembunuhan dibebaskan oleh Kejari Bengkalis dengan menempuh keadilan restoratif.

Azmal Saragih patut bersyukur setelah Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkalis menghentikan penuntutan perkaranya hingga tak bergulir ke meja hijau. Tersangka pengancaman itu bebas setelah diterbitkannya Surat Ketetapan Penghentian Perkara (SKP2) berdasarkan Restorative Justice.


Amal, biasa dia akrab disapa, sebelumnya dilaporkan korban bernama Mulsim ke pihak kepolisian karena diduga melakukan pengancaman. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (28/9/2023) sekitar pukul 10.00 WIB.

Pria 34 tahun tersebut tidak terima akan dilaporkan ke polisi karena telah mengambil buah sawit di kebun milik Edi Gunawan tempat Mulsim bekerja.

Amal kemudian mendatangi Mulsim yang saat itu berada di pinggir Jalan Pawang Lion Dusun Bukit Lengkung Desa Tanjung Leban Kec. Bandar Laksamana, Bengkalis.

Sempat berbicara sebentar, Amal lalu mengambil parang panjang yang gagangnya terbuat dari pipa egrek. Senjatanya tajam itu itu kemudian diangkatnya dan dia mengancam akan membunuh Mulsim.

Pertikaian keduanya dilerai oleh seorang warga yang kebetulan bersama mereka. Selanjutnya, Amal pergi meninggalkan Mulsim.

Tidak terima atas perbuatan Azmal, Mulsim kemudian membuat laporan ke pihak kepolisian dan Azmal Saragih ditetapkan sebagai tersangka sebagaimana tertuang dalam Pasal 335 ayat (1) KUHP tentang Pengancaman.

Singkat cerita, berkas perkara tersebut dinyatakan lengkap hingga akhirnya dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). Jaksa kemudian memfasilitasi perdamaian antara Amal dan Mulsim. Beruntung, korban bersedia dan memaafkan perbuatan Amal.

Selanjutnya, Jaksa mengajukan permohonan penghentian penuntutan berdasarkan Restorative Justice ke Kejaksaan Agung RI. Pada ekspos yang digelar secara virtual pada Senin (4/12), Kejaksaan Agung mengabulkan permohonan tersebut.

"Benar. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum, Bapak Fadil Zumhana mengabulkan permohonan kita," ujar Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bengkalis Zainur Arifin Syah melalui Kepala Seksi (Kasi) Pidana Umum (Pidum) Maruli Sitanggang, Selasa (5/12/2023).

Dikatakan Maruli, pertimbangan penghentian perkara itu, selain adanya perdamaian antara kedua belah pihak, juga dikarenakan tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana, dan tindak pidana yang disangkakan diancam dengan pidana penjara tidak lebih dari 5 tahun.

"Kedua belah pihak juga sepakat perkara ini tidak dilanjutkan ke persidangan, dan hal itu mendapat respon positif dari masyarakat," kata Maruli.

Selanjutnya, Kajari Bengkalis Zainur Arifin Syah menerbitkan SKP2 Berdasarkan Keadilan Restoratif sesuai Peraturan Kejaksaan RO Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai Perwujudan Kepastian Hukum.

"Yang bersangkutan (Azmal Saragih,red) telah dikeluarkan dari Lapas Bengkalis dan bisa kembali berkumpul dengan keluarganya," kata Maruli.